RSS

JURNALIS MENANTANG, MEDIA BERSAING

Perkembangan IT ( Information Technology) akhir-akhir ini menjadi wacana diberbagai kalangan. Informasi begitu penting namun sudah menjadi hal yang lumrah, mudah didapatkan dan bisa diakses dimana-mana dari berbagai macam media pula. Baik media cetak, elektronik maupun media online yang sekarang paling marak digemari oleh masarakat termasuk kalangan mahasiswa.. Bermunculannya media dewasa ini merupakan salah satu faktor yang mempercepat informasi sampai kepada masyarakat luas. Dengan demikian informasi menjadi hal yang tidak asing lagi dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan sebagian masyarakat itu merupakan sudah menjadi suatu kebutuhan pokok layaknya makanan yang disantap disaat lapar dan minuman disaat dahaga. Olehnya itu, media bangkit dengan berbagai macam merek dan visi-misi yang berbeda-beda. Hal ini telah menjadi persaingan dalam pasaran dunia informasi. Lihat saja Media cetak Koran, tabloid dan segala macamnyan harus besaing dengan media elektronik yang lebih komplik dan ter-update. Lebih-lebih media online sekarang menjadi mudah di akses dengan informasi yang lebih cepat. Hal itulah menjadi tantangan kalangan jurnalis.

Dengan Persaingan media tersebut membuat para jurnalis harus menampakkan keahliannya masing-masing. Hal itu juga menjadi suatu peluang bagi pihak-pihak atau pesrson tertentu. Seperti Diklat jurnalistik yang pernah saya ikuti sejak 7-8 Maret 2008. Diklat yang diadakan oleh PK (Penerbitan Kampus) IDENTITAS Universitas Hasanuddin ini membuktikan kalau pesertanya yang kurang lebih 100 orang menunjukkan semangat jurnalistik yang tinggi. Semangat menembus tantangan baru dalam dunia jurnalistik semakin tampak dari pelatihan ini. Para wartawan-wartawan senior dari berbagai media hadir dalam membawakan materi jurnalistik dalam kegiatan tersebut. Sebuah kekaguman yang menjadi kenangan karena itulah pelatihan yang menantang yang pernah saya ikuti. Simulasi yang cukup menegankan seolah-olah sebagai waratawan benaran.. Bahkan detik-detik terakhir kami kami ditugaskan meliput perdana di berbagai tempat di Makassar ini. Ada yang pergi ke Jln. Nusantara, Karebosi, Polresta Makassar Timur, dan Timku sendiri meliput di Mall Panakukang. Ini tulisan hanya sekedar untuk kenangan pribadi saja. Seperti apa liputan pertamaku itu, berikut kutipannya

Pameran Alat Terapi Tulang Punggung di Mall Panakukang

Pameran alat terapi tulang punggung di lantai dasar Mall Panakukang terlihat ramai oleh pengunjung. Alat terapi tulang punggung ini merupakan suatu alat yang berbentuk kursi, dimana pada bagian sandaran punggung dan kaki terdapat alat yang bergerak-gerak untuk melemaskan otot. Pameran yang dilaksanakan sejak tanggal 8 hingga 23 Maret 2008 ini juga memberikan pelayanan kesehatan secara gratis berupa terapi tulang punggung bagi pengunjung selama pameran berlangsung dengan menggunakan alat tersebut.

Alat terapi kesehatan milik PT Perfect Global ini diadakan di Mall Panakukang karena melihat kondisi Mall yang ramai dan memudahkan menyosialisasikannya kepada publik. Seperti yang diungkapkan oleh Wibisono, trainer management perusahaan tersebut mengatakan bahwa kegiatan ini dilaksanakan atas dasar warga Sulawesi Selatan yang konsumtif dengan kadar kolesterol dengan lemak yang tinggi cocok menggunakan alat semacam ini.

Pameran alat yang didesain dari Jepang ini dirangkaikan dengan lomba menggambar dan mewarnai, model dan dancer,serta dimeriahkan oleh Laguna Band.

Alat yang seharga mulai dari Rp 840.000 hingga Rp 74 Juta ternyata diminati juga oleh sebagian warga Makassar. Hal itu terbukti dengan kunjungan pameran yang rata-rata 15-20 pengunjung perhari.

Salah seorang pengunjung, Santi yang bertempat tinggal di Tello menuturkan kalau ia baru pertama kali mencoba alat tersebut. Dan ia juga menuturkan bahwa biaya alat tersebut cukup mahal sehingga hanya bisa dibeli oleh orang-orang tertentu. Ia pun berpesan kepada masyarakat untuk tetap menjaga kesehatannya dengan baik dan khususnya bagi para mahasiswa agar dapat menghindari narkoba.

Senada dengan Imam yang tinggal di Hartaco Indah yang mengatakan bahwa ia pun sangat setuju akan kegiatan ini. Karena kesehatan bagi dirinya sendiri merupakan hal yang sangat penting yang harus dijaga dengan baik. (Dhika)

http://andika-wirawan.blogspot.com

Email : an_dhyk@yahoo.com

andikawirawan@gmail.com

FS : dhika_023@ahoo.com

HP : 085299588299

PRA KESPRO MAHASISWA & JARINGAN EPIDEMIOLOGI NASIONAL (JEN)

PRA ( Participatory Rapid Appraisal ) Adalah sebuah Tim Penelitian yang terdiri dari anggota dengan latarbelakang yang berbeda-beda. Penelitian yang bersifat kualitatif ini membutuhkan suatu partisipasi yang cukup dari setiap anggota maupun pada respondennya.

Sekedar berbagi pengalaman dengan Pelatihan PRA KESPRO MAHASISWA yang pernah saya ikuti dari tanggal 1-3 Maret 2008 baru-baru ini di Balai Pelatihan Kesehatan (BAPELKES) Antang yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Epidemiologi (HIMAPID) FKM Unhas yang kerja sama dengan Jaringan Epidemiologi Nasional (JEN) dan Ford Foundatipon (ff). Penelitian ini tidak jauh beda dengan penelitian Statistik yang selalu dipakai pada kebanyakan mahasiswa pada umumnya. Hanya saja penelitiannya bersifat kualitatif atau data kategori dan bersistem cepat. Penelitian ini juga butuh partisipasi dari responden utamanya dalam hal kesiapan dan kejujuran dalam memberi respon kepad interviewer.

Berawal dari transfer teknologi terbukti tidak mampu menyelesaikan masalah di dunia ketiga pada tahun1970-an dan juga mulai dimengerti betapa rumitnya hubungan antara lingkungan ekonomi, budaya, dan politik dalam masyarakat suatu daerah sehingga dari RRA (Rapid Rural Appraisal) itu sendiri dekembangkanlah PRA ini pada akhir tahun 70-an dan awal tahun 80-an.

Cara belajar ini berguna untuk menilai kebutuhan, mempelajari kemungkinan-kemungkinan yang ada serta mencari tahu prioritas dari suatu kegitan dengan membutuhkan sikap partisipatif, saling menghormti dan menghargai antara kelompok, sabar dan tidak buru-buru, rendah hati serta saling berbagi pengetahuan antara sesama anggota kelompok seperti yang dipaparkan oleh Prof. dr. Charles Surjadi, MPH., Ph.D yang didampingi oleh rekannya Dr. Regina dan Vita yang juga sebagai tim pemateri utama dalam pelatihan tersebut.

Saat mengikuti penelitihan ini, Saya sedikit ragu bisa menghasilkan data yang valid, khusunya kalau di sulawesi selatan ini. Karena penelitian PRA ini butuh responden yang mau terbuka dan mengatakannya dengan jujur, sementara warga Sul-Sel itukan paling jarang ditemulkan orang yang mau terbuka apalagi menyangkut hal-hal yang sangat spesifik seperti masalah kesehatan reproduksi. Lebih-lebih kalau menyangkut masalah seks bebas pranikah karena memang itulah yang menjadi sasaran PRA ini. Mereka pasti takut ketahuan oleh khalayak umum apalagi kelurganya sehingga memungkinkan untuk lebih memilih tutup mulut dari pada cerita panjang lebar. Tapi setelah hal itu saya tanyakan pada pemateri saat itu, Erlina DF, salah satu mahasiswa Universitas Katolik Soegijapranata (UNIKA) yang tergabung dalam PRA KESPRO UNIKA yang juga sebagai tamu presenter dalam kegiatan tersebut. Beliau menuturkan kalau dalam mengahapi hal seperti itu memang sebagai seorang interviewer harus punya trik dalam menaklukkan respondennya demi mendapatkan data yang mendalam.

Menurut hemat saya, PRA ini memang bagus diterapkan dan terus dikembangkan dimana ini dapat menjadi sumber dalam meningkatkan pengetahuan kita tentang masalah kesehatan reproduksi khususnyan bagi mahasiswa di Makassar ini sebagai kota yang tengah menuju kota metropolitan. Selain itu, data hasil dari PRA ini dapat menjadi pedoman bagi pemerintah dalam mengatasi masalah kesehatan reproduksi jika terbukti masalahnya menunjukkan sinyal yang membahayakan. Disamping itu PRA ini dapat juga menyelamatkan hidup sebagian mahasiswa dari jeratan dunia maksiat yang nantinya mengancam masa depannya. Oleh karena itu terbentuklah TIM PRA KESPRO MAHASISWA UNHAS yang kini dalam penyusunan program kerja tahap percobaan masa kotrak kerja dengan JEN. Tentunnya sebagai anggota dalam Tim tersebut, saya hanya berharap mudah-mudahan program kerjanya dapat berjalan dan dengan komitmen berpartisipasi dalam kegiatan teraebut. (Dhik@)

http://andika-wirawan.blogspot.com

Email : an_dhyk@yahoo.com

andikawirawan@gmail.com

FS : dhika_023@ahoo.com HP : 085299588299

JAWAB SEKARANG

Aku terdiam

Melihat gejolak bangsaku

Krisi moral..,amal…

Krisis amanah

Aku masih terdiam

Mengamati keboborokan negeriku

Rusuh, terkikis, dan terkuras

Di tangan-tangan penguasa

Aku tetap terdiam

Menyaksikan rakyat kecil

Tergeletak, menangis, dan merontah

Pupus di ujung tombak aparat

Apakah aku harus tetap diam?

Membiarkan rakyat menjerit

Kehilangan harta dan hak miliknya

Diboikot, disita, dan digusur

Jawab sekarang..!

DEMOKRASI MATI

Bhineka tunggal ika

Penyatu perbedaan kita

Demokrasi pancasila

Asas dan pedoman bangsa kita

Tapi

Perpecahan, kerusuhan, dan tudingan

Serta fitnah antar golongan dan ras

Ataukah saling jotos menang-kalah

Apakah itu bhinneka kita?

Persaingan politik dan kedudukan,

Intervensi membutakan hukum

Serta keputusan yang berpihak

Apakah itu juga demokrasi kita?

Demokrasi Telah mati

SMAN 1 TELLU LIMPOE, TEMPAT MENGGALI CITA, CITRA, & CINTA

Tulisan ini saya pesembahkan kepada guru-guruku dan teman-temannku. Oleh: Andika
Tiada masa paling indah, masa-masa di sekolah. Tiada kisah paling indah, kisah kasih di sekolah”. Sepenggal lirik lagu dari Obbie Mesakh ini merupakan lagu yang paling menyentuh perasaan. Lagu tersebut mengingatkan saya pada sebuah memori dan masa-masa yang indah di bangku sekolah. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian insan muda jagad raya ini merasakan masa-masanya yang paling indah adalah ketika berada di bangku sekolah. Kenangan demi kenangan terus terukir hingga di penghujung langkah. Bahkan waktu 3 tahun terasa 3 menit saja. Apalagi jika sekolah tersebut adalah sekolah idaman dan telah bersahabat dengn kita. Sebut saja SMAN 1 TELLU LIMPOE, sebuah sekolah yang paling bersahabat denganku, tempatku menimbah ilmu, berbagi bersama teman-teman hingga guru-guru yang ramah dan bahkan warga sekolah maupun kekasih hati yang senangtiasa setia dan tulus . Layaknya sebuah perahu yang menyeberangkaku di laut luas demi menggapai cita, citra, dan cintaku. Sekolah yang yang bertegger di sebuah desa Teppo, Kecamatan Tellu LimpoE, kabupaten Sidrap ini telah mengantarku menginjak dunia perkuliahan lewat program bebas tes di FKM UNHAS tahun 2006 yang lalu. Sejak berdirinya tahun 1992, sekolah ini telah berbagi jasa dan ilmu kepada ribuan anak didiknya. Menghapus jejak di sekolah ini tidaklah semudah Ariel Peterpan menghapus jejak oleh sebuah tetesan hujan pada kekasih hatinya atau segampang Resky & Andika the Taitans dalam mecari pengganti dan membuang semua cerita yang lalu lewat pantolannya ’Bila’. Disekolah ini telah tertanam sebuah pohon kenangan yang memiliki ranting-ranting kerinduan untuk terus mengenangnya. Betapa tidak, sekolah yang dulunya terkenal dengan kumuhnya hingga kini menjadi sekolah percontohan dengan bangunan-bangunan dan sistemnya yang kerap kali mebawa namanya naik daun. Salah satunya adalah pernah menjadi sekolah tersehat se-Sidrap dan sekolah terhijau se-Sulsel dan sempat mewakili Sulawesi Selatan untuk besanding dengan berbagai sekolah di Indonesia di tingkat nasional. Hal tersebut merupakan hasil dari semangat dan kerjasama warga sekolah, siswa, guru, dan tentunnya dengan kewibawaan dan skill tersendiri serta ide-ide cemerlang oleh sosok seorang kepala sekolahnya. Drs. Akmal, M.pd adalah sosok kepala sekolah yang dikagumi oleh siswa-siswinya, guru-guru, dan bahkan atasanya ini akan membawa sekolah ini berbasis Sekolah Mandiri. Dalam melaksanakan tugas birokrasinya, beliau di wakili oleh Drs.Suardin. Sebagai kepala sekolah beliau masih sempat mengajar dan termasuk salah satu guru favorit saya yang telah menaburiku benih-benih semangat, termasuk salah satunya adalah semangat untuk menulis karena beliau ahli di bidang tulis menulis dan bahakn telah menulis sebuah buku. Dengan prinsip OHT (Otak, Hati, & Tangan) yang terkenal ini membawah sebuah perubahan besar di sekolah yang memikat hati ini. Berlatar belakang sebagai master lingkungan hidup, sekolah yang dulunya gersang sekejap saja dalam kepemimpinannya disulap menjadi sekolah terhijau se-Sulsel. Ditambah lagi keberadaan sosok Pembina OSIS, Drs.H.Muh.Ilyas, terkenal dengan keramahannya dan ahli dalam mengurus berbagai kegiatan apalagi jika panel dengan wakilnya di bidang kesiswaan, Sainal, S.pd, membawa kemajuan dalam kegiatan-kegiatan exktrakurikuler. Termasuk salah satu oraganisasi favoritku saat itu adalah Saka Bhayangkara yang di pandu oleh Wahida, S.pd. Begitu juga dengan penerbitan Mading yang terbit setiap minggu yang dikawal langsung oleh guru bahasa Indonesia, Dra.Hasnawati. Tidak kalah pentingnya juga dalam bidang akademik, seorang guru jebolan mengajar di Negeri Sakura, Jepang, Ali Upri,S.pd, membawa perubahan dalam bidang bahasa Inggris. Kini pun tidak ketinggalan dalam dunia teknologi komputer dan internet di bawah asuhan Syarifuddin, S.pd dan yang ahli dalam bidang tersebut. Semua itu kini menjadi sebuah kerinduan dan hanya bisa terlintas dalam khayalan.
Memang sekolah ini adalah tempat menggali Cita, Citra, dan Cinta. Begitu banyak kenangan yang tidak bisa terhapus. Berat rasanya untuk meninggalkannya. Saya hanya bisa mempersembahkan tulisan ini untuk guru-guruku yang tercinta sebagai ucapan terima kasih atas jasa-jasanya yang mulia. Terima kasih buat kepala sekolahku, Drs.Akmal,M.pd yang telah memberikan motivasi. Buat wakil kepala sekolahku, Drs.Suardin dan pembina OSISku Drs.H.Muh.Ilyas Yunus yang telah membantuku dalam berbagai urusan administrasi, termasuk beasiswa. Tidak lupa buat guru bahasa Inggrisku, Ali Upri,S.pd, yang telah mencetakku untuk tahu sedikit tentang bahasa inggris, guru bahasa Indonesiaku, Sukma, Spd danDra.Hasnawati yang telah menimbahkan benih-benih tulis-menulis yang berawal dari Mading Sekolah hingga karya tulis. Pembina SISPALAKU, Siswadi, S.pd.I dan Pembina SAKA BHAYANGKARAKU,Wahida, S.pd, yang telah menanamkan dasar kepemimpinan pada diriku. Guru matematikaku, Herman Bade, S.pd, dan Nasaruddi n, S.pd, yang memotivasi dalam melanjutkan pendidikanku ke bangku kuliah. Guru kimiaku, Dra.mursyida, Sunarti, Spd dan Syarifuddin, S.pd yang sekaligus pembimbing komputer. Guru biologku, Sainal, S.pd yang penuh canda dan tawa serta bersahabat dengan siswa-siswa. Tidak lupa juga buat guru Sosiologiku, Dra.Karnaini dan wali kelasku, Drs.Ir. Syamsi. Guru ekonomiku, Drs.Hamid, yang nasehatnya membuatku ingat akan kebaikan. Guru sejarahku, Drs. Nurdin, dan guru-gurk yang lain, Wahyu, Spd, Hikmah, S.pd, Dra.Hj.Hadrah, Dra.Asia, Sabili, S.pd, Drs.Gunawan, Hapsa, S.pd, , Ariani, S.pd., M.pd dan semuaya tanpa terkecuali. Hanya ucapan terima kasih yang bisa saya berkan melalui tulisan. Semoga jasa-jasa dan ilmunya dapat mejad pembuka masa depan.
Tulisan ini juga saya persembahkan buat teman-temanku. Buat Sartina dan Munawir Syam yang telah jauh di sana di Tanah Abang yang menuntut cita-citanya. Buat teman-teman se-geng-ku, Surianto, Irwan, Davit, Patongai, Bahar, Kennu, Ali, Elfa, Yuliana, Nurlina, Nulang, Titin. Buat teman-temanku yang sempat melanjutkan pendidikan di bangku kuliah, Janwar, Ratna, M.Irwan, St.Paisah, Nurbaya, Mamma, Mariana, Taufik, Sulkarnain, Jeni, Asmiani 1 Dan Asmiani 2, Basri, Fitriani, Marwah, Eli Hamid, Nasra, Nur Isma, Muliani, Hasnawati, Sri, Selvi, A.Muliana, Dalle, Akbar, Tasri, Dahniar, Hastuti, Anugrah, Haslinda, Eka. Tidak lupa juga amrullah, kasman, jafar, chiwank, dan semua tema-temanku yang tidak sempat tertera namanya. Saya hanya bisa ucapkan selamat menempuh kehidupan yang penuh dengan liku-liku.
Tidak lupa juga buat keluargaku, papa dan mama tercinta, wajo-nani, serta saudara-saudariku, Kaharuddin, timung, wasni, nacang, darci, dan yogi
Inilah kisah perjalanan yang kutorehkan Ketika jarak yang terbentang jauh dan kata-kata semakin sulit terucap http://andika-wirawan.blogspot.com/

PEMANASAN GLOBAL AJANG PERSAINGAN KAPITALIS

Global Warming

Pemanasan Global (Global Warming) yang semakin marak di media akhir-akhir ini menjadi perhatian publik. Kondisi bumi semakin hari semakin tidak menentu ini layaknya sebuah ancaman yang tidak terduga kapan dan di mana akan meretas. Bencana alam kian menggetarkan jiwa dan raga membutuhkan kewaspadaan dini. Luapan air laut mengancam kehidupan pemukiman sekitar pantai semakin meningkat sekitar 10-20 cm per tahun. Suhu bumi semakin panas dan bertambah rata-rata 3,50C berdasarkan perkiraan para ahli emisi gas ’rumah kaca’ atmosfer. Ditambah pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat di setiap tahunnya akan menambah aktivitas manusia yang beraneka ragam pula. Paling tidak kegiatan mereka mendukung alam dan bahkan sebaliknya justru berdampak pada Global Warming (pemanasan Global) tanpa di sadarinya. Penggunaan alat elektornik seperti kulkas, AC, Farfum yang merupakan kebutuhan sehari-hari justru mengancam kehidupan kita di bumi. Kandungan karbondioksida (CO2), metana (H4), Nitrogen (N2O) dan lain-lain semakin meningkat akibat perbuatan manusia sendiri. Gas-gas tersebut memiliki sifat meneruskan radiasi gelombang pendek atau cahaya matahari, tetapi menyerap dan memantulkan radiasi gelombang panjang atau radiasi balik yang dipancarkan bumi bersifat panas sehingga meningkatkan suhu atmosfer bumi.

Konfrensi Bukan Solusi Mengatasi Global Warming

Konfrensi pertama kali diadakan oleh PBB tentang Lingkungan Hidup (Human Environmental) pada tahun 1972. Tahun 1992 di gelar konfrensi bumi Di Rio de Jainero. Dalam konfrensi ini ditandatangani konvensi PBB untuk ‘Perubahan Iklim’, United Nation Framework Convention Of Climate Change (UNFCCC) yang bertujuan menstabilkan gas rumah kaca di atmosfer. Desember 1997 di Kyoto, Protokol kyoto di tandatangani oleh 84 negara dan tetap terbuka untuk di tandatangani/ di akses sampai maret 1999 oleh negara-negara lain di markas besar PBB, New York. Protokol ini bekomitmen bagi 38 negara industri untuk memotong emisi Gas Rumah Kaca (GRK) antara tahun 2008 samapai 2012 menjadi 5,2 persen di bawah tingkat GRK tahun 1999. Tapi apa hasil dari semua kofrensi tersebut? Sama sekali tidak ada reaksi yang nyata akan mendukung program yang telah disepakati tersebut. Terutama dengan negara-negara maju yang masih membusungkan dada sebagai negara berkuasa yang hanya berpikir jangka pendek pada perkembagngan ekonomi demi pertahanan negaranya dari ancaman negarag lain. Konfrensi tidak berarti apa-apa, penggunaan emisi gas oleh negara maju justru meningkat.

Ajang Persaingan Negara Kapitalis

“Bumi ini cukup untuk menampung bermiliar-miliaran penduduk tetapi tidak akan cukup untuk satu orang yang serakah”. Sebuah kutipan dari Mahatma Gandhi ini memang menggambarkan keserakahan negara-negara maju. Kita lirik negara-negara berkembang yang nyata-nyata kontribusi sumbangan gas emisinya jauh lebih rendah tapi justru meratifikasi protocol kyoto tanpa banyak pertimbangan. Termasuk Indonesia sendiri yang telah menandatanganinya sejak desember 2004 lalu. Amerika serikat sendiri menarik dukungannya akibat pertumbuhan ekonominya akan terkurangi sekitar 60% di sektor industri. Bukankah itu hanya sebagai ajang persaingan ekonomi yang akan berdampak pada ancaman pemanasan bumi? Termasuk negara maju lainnya, Jepang, Australia Dan Rusia yang merupakan panghasil gas emisi terbesar tetapi kesadarannya akan hasil konfrensi itu tidak terlihat ada rekasi untuk meratifikasinya. Namun november 2004, Rusia berkecil hati meratifikasinya itu pun karena ada unsur yang menguntungkan tersendiri.

Desember 2007 lalu di Nusa Dua, Bali diadakan ‘Climate Change Confrence’ yang di hadiri oleh sekitar 180 negara atau sekitar sepuluh ribu orang.Namun keputusan dan kesepakatan semakin sulit tercipta karena pendapat-pendapat hanya berdasar pada ke-ego-an masing-masing negara. Bahkan hampir saja pembicaraan dalam konfrensi tersebut melenceng dari agenda. Perubahan iklim dalam pembahasan tersebut masih sempat menyinggung tentang perdagangan emisi yang hanya bisa dijalankan oleh negara-negara maju. Hal ini membuang-buang waktu dan biaya saja dan hasilnya cuma kepentingan negara-negara kapitalis. Amerika, Jepang, dan Austrlia awalnya tidak menunjukkan reaksi setuju akan keputusan pengurangan gas emisi tersebut, tapi karena desakan negara-negara lain akhirnya menyetujui meskipun kelihatan sekadar terpaksa. Keputusan tersebut tidak ada implikasi yang nyata dan hanya menagguhkan dengan adanya pertemuan lanjutan Word Ocean Confrence tahun 2009 mendatang di Sulawesi Utara, Minahasa. Sebuah prediksi, jika tekanan ekonomi akan dibawa-bawa dalam konfrensi tersebut maka hasilnya sama yaitu pertemuan lanjutan juga.

Inilah kisah perjalanan yang kutorehkan

Ketika jarak yang terbentang jauh

dan kata-kata semakin sulit terucap

http://andika-wirawan.blogspot.com