RSS

Lokakarya Epidemiologi

Lokakarya kurikulum program megister S2 epidemiologi dan Strata satu (S1) Epidemiologi FKM unhas yang dilaksanakan di Hotel Clarion pada tanggal 8-10 Oktober 2010 ini merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap pergantian periode kepengurusan di bagian epidemiolig FKM Unhas. Hal ini bertujuan untuk menyusun program kerja pada satu periode yang berjalan. Segala program-program inovasi dimasukkan dan yang dianggap tidak perlu lagi ditanggalkan. Kegiatan ini diikuti oleh para staf dosen dan staf administrasi bagian epidemiologi.

POKJA Kebutaan Kabupaten Jeneponto

Salah satu penelitian lagi yang sempat saya ikuti lagi adalah Kelompok Kerja tentang kebutaan di kabupaten Jeneponto. Penelitan ini bertujuan untuk mendeteksi penyakit katarak yang diderita oleh masyarakat kemudian dibei operasi kecil untuk menyembuhkan penderitanya. Hal ini dimaksudkan untuk menghilangkan penyakit katarak yang diderita oleh masyarakat sulswesi selatan. Penelitian ini diadakan oleh bagian mata RS Unhas Makassar dengan kerja sama berbagai pihak, baik nasional maupun international. Penelitian yang dimulai sejak agustus 2010 ini merupakan penelitian pengabdian kepada masyarakat dengan maksud agar dapat meringankan beban masyarakat.

Project Malaria Mamuju

Kegiatan pertama yang saya ikuti pasca mendapat gelar Sarjana Kesehatan masyarakat adalah dengan ikut terlibat sebagai surveyor pada penelitian penanggulangan malaria terpadu di kabupaten Mamuju Sulawesi Barat. Adapun hasilnya dapat dilihat sebagai berikut:
PENDAHULUAN
Keberhasilan suatu program di tingkat Puskesmas sangat terkait dengan dukungan kinerja petugas kesehatan puskesmas dalam menjalankan sistem surveilans yang tepat. Kegiatan surveilans malaria kadang tidak dilakukan secara maksimal baik dalam hal pencatatan untuk pengumpulan data, pengolahan dan analisis data, pelaporan data maupun umpan balik dari pelaporan tersebut, misalnya keterlambatan dan tidak akuratnya proses pengolahan data, ketidaklengkapan dan kesulitan mengakses data dan informasi, banyaknya data yang hilang dan pencatatan yang tidak tepat
Surveilans adalah suatu pencatatan sistematis yang berkelanjutan, analisa dan interpretasi data dan pengumpulan informasi ke pihak yang membutuhkan untuk mengetahui jenis tindakan yang dapat diambil. Tindakan ini merupakan sebuah bagian penting dalam upaya mengontrol penyakit menular melalui upaya monitoring terhadap penularan penyakit di komunitas masyarakat. Tindakan ini juga menyediakan penyedia informasi secara tepat waktu yang bermanfaat dalam upaya perencanaan, implementasi dan evaluasi kesehatan masyarakat. Dengan kata lain, surveilans adalah informasi terhadap tindakan kesehatan masyarakat. Sistem surveilans yang baik harus bisa mengidentifikasi populasi-populasi yang berisiko tinggi dan di daerah mana intervensi tambahan yang cocok di gunakan untuk melaksanakan pengendalian penyakit secara tepat. Untuk menunjang keberhasilan program pemberantasan penyakit menular khususnya penyakit malaria, maka pelaksana program surveilans puskesmas sangat memegang peranan penting terutama pada kegiatan pengamatan kasus, pencatatan yang baik dan benar, pelaporan yang teratur dan tepat waktu serta analisis yang baik dan evaluasi hasil kegiatan akan sangat menentukan keberhasilan suatu program. Masih tingginya kasus malaria di akibatkan ketepatan dan kelengkapan laporan serta pelaksanaan surveilans yang belum memadai di Kabupaten Mamuju perlu mendapat perhatian dari semua pihak mengingat malaria sangat berpotensi terjadinya KLB seta dapat berakibat fatal. A. Jenis Kegiatan Jenis Kegiatanini adalah survei terhadap petugas surveilans untuk mengetahui gambaranpelaksanaan kegiatan surveilans mulai dari pengumpulan data, pengolahan data, analisis daninterpretasi data, pelaporan dan penyebarluasan data di Puskesmas Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2010 B. Lokasi dan Waktu Kegiatan ini dilakukan di Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat dan dilaksanakan pada bulan tanggal 26 Juli hingga 7 Agustus 2010, yang meliputi 20 puskesmas. C. Jenis Kegiatan Kegiatan ini dilaksanakan mulai tanggal 26 Juli hingga 7 Agustus tahun 2010. Adapun gambaran kegiatannya sebagai berikut: 1. Mengunjungi Dinas Kesehatan Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat dan mewawancarai petugas surveilansnya. 2. Mengunjungi seluruh Puskesmas yang ada di Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat tahun 2010. 3. Mewawancarai Kepala Puskesmas/Kepala TataUsaha, Petugas Surveilans, dan pemegang program malaria. 4. Mengobservasi kelengkapan pencatatan dan pelaporan berbagai Format Pelaporan Penyakit. 5. Mengambil titik koordinat lokasi kegiatan (Puskesmas) dengan bantuan alat GPS (Global Positioning system) D. Deskripsi Hasil Kegiatan Kabupaten Mamuju terletak pada Provinsi Sulawesi Barat, pada posisi : 10 38’ 110” – 20 54’ 552’’ Lintang Selatan, 110 54’ 47” – 130 5’ 35 Bujur Timur dari Jakarta, (00 0’ 0’’ Jakarta = 1600 48’ 28” Bujur Timur Green Which), Dengan batas wilayah : Sebelah Utara : Kab. Mamuju Utara Sebelah Timur : Kab. Luwu Utara Sebelah Selatan : Kab. Majene, Kab. Mamasa dan Kab. Tana Toraja Sebelah Barat : Selat Makassar Kabupaten Mamuju memiliki luas wilayah 801.406 Ha dan teridiri dari 15 Kecamatan serta 27 unit Puskesmas. Dalam kegiatan ini, Puskesmas yang sempat didatangi sebanyak 1 Dinas Kesehatan dan 20 Puskesmas yaitu sebagai berikut: 1. Dinas Kesehatan Kabupaten Mamuju 2. Puskesmas Tapalang 3. Puskesmas Dungkait 4. Puskesmas Rangas 5. Puskesmas Pangale 6. Puskesmas Bambu 7. Puskesmas Ranga-ranga 8. Puskesmas Tampa Padang 9. Puskesmas Topoyo 10. Puskesmas Topore 11. Puskesmas Botteng 12. Puskesmas Tarailu 13. Puskesmas Pangale 14. Puskesmas Tobadak 15. Puskesmas Tommo 16. Puskesmas Campaloga 17. Puskesmas Polocamba 18. Puskesmas Babana 19. Puskesmas Salupangkang 20. Puskemas Lara 21. Puskesmas Duri Kumba Masalah-masalah yang ditemukan di Lapangan 1. Petugas surveilans banyak yang baru dan belum mendapatkan pelatihan 2. Petugas surveilans sebagian besar mernagkap dengan program lain sehingga kerjanya tidak maksimal 3. Latar Belakang pendidikan petugas surveilans banyak yang tidak sesuai dengan disiplin ilmunya. 4. Masih banyak petugas surveilans yang belum tahu cara mengolah data utamanya dalam penggunaan computer. E. Hambatan-Hambatan 1. Lokasi kegiatan yang luas dan sulit dijangkau 2. Kepala Puskesmas dan Petugas Surveilans yang merupakan responden dalam kegiatan ini kadang-kadang tidak hadir pada saat berkunjung ke Puskesmas sehingga harus mendatangi berkali-kali baru bisa bertemu. 3. Kondisi cuaca yang merupakan musim penghujan

Gambaran Spasial Kasus Demam Tifoid Di Kecamatan Panakkukang Kota Makassar Tahun 2009

ABSTRAK
Kasus demam tifoid di Indonesia diperkirakan sekitar 600.000–1.500.000 kasus per tahun dengan insiden sebesar 358 per 100.000 penduduk per tahun di daerah pedesaan dan 810 per 100.000 penduduk per tahun di perkotaan. Kematian diperkirakan sekitar 20.000 kasus per tahun (Widodo,2009).
Tujuan penelitian ini untuk membuat peta distribusi karakteristik kasus demam tifoid, sarana pelayanan kesehatan, aliran sungai/kanal, pasar tradisional, tempat pembuangan sampah sementara, cakupan persediaan air bersih, dan cakupan jamban keluarga. Jenis penelitian adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan metode GIS (Geographic Information System). Populasi adalah seluruh kasus demam tifoid yang terdaftar di puskesmas yang wilyah kerjanya di Kecamatan Panakkukang pada tahun 2009 sebanyak 254 kasus. Sampel adalah kasus demam tifoid klinis dan tes widal positif yang memiliki alamat lengkap dan terdaftar di Puskesmas Batua, Tamamaung, Karuwisi, dan Pampang yaitu sebanyak 96 kasus. Hasil penelitian ini menunjukkan kasus demam tifoid tertinggi di Kelurahan Pampang yaitu 24 kasus (25%), terbanyak pada perempuan yaitu 62 kasus (64,6%), terbanyak pada kelompok umur 5-14 tahun yaitu sebanyak 30 kasus (31,2%), serta tertinggi pada Bulan Februari yaitu sebanyak 19 kasus (19,8%). Kasus terbanyak terdapat pada zona buffer 0-250 m dari sarana pelayanan kesehatan sebanyak 28 kasus (29,2%). Berdasarkan daerah aliran sungai, kasus terbanyak terdapat pada zona buffer 250-500 m sebanyak 23 kasus (24,0%). Kasus terbanyak berada pada zona buffer 250-500 m dan 500-750 m masing-masing 23 kasus (24,0%) dari aliran kanal. Berdasarkan daerah pasar tradisional, kasus terbanyak berada pada zona buffer 250-500 m dan 500-750 m masing-masing 16 kasus (16,7%), dan berdasarkan tempat pembuangan sampah sementara, kasus terbanyak terdapat pada zona buffer 250-500 m yaitu sebanyak 48 kasus (50%). Berdasarkan cakupan air bersih, kasus tertinggi terdapat pada daerah yang cakupan air bersihnya antara 70-80% sebanyak 62 kasus (62,5%) dan berdasarkan cakupan jamban keluarga, kasus tertinggi terjadi pada daerah yang cakupan jamban keluarganya antara 65-77% sebanyak 34 kasus (35,4%). Disarankan untuk memperbaiki mutu pelayanan kesehatan di puskesmas, meningkatkan dan menjaga sanitasi lingkungan di daerah aliran sungai dan kanal, menjaga dan meningkatkan kebersihan pasar tradisional, membuang sampah pada tempat sampah kontainer yang tersedia, menjaga air bersih agar tidak tercemar oleh bakteri Salmonella typhi, menjaga kebersihan jamban keluarga agar tidak menjadi media penularan bakteri Salmonella typhi. Daftar Pustaka : 78 (1997-2009) Kata Kunci: Gambaran Spasial, Demam Tifoid , Geographic Information System

Fasilitator Kesehatan Reproduksi Remaja

Berhadapan dengan siswa SMA/SMK dan bercerita tentang kesehatan reproduksi seru juga. Ada yang risih, ada yang diam aja, ada juga yang cerewetnya tingkat tinggi. Yah.... ini merupakan salah satu kegiatan yang saya laksanakan sebagai pengurus PIK KRM HEART UNHAS. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada siswa-siswi SMK tentang bagaimana agar kesehatan reproduksi dapat tercipta dalam diri kita. Masalh kesehatan reproduksi merupakan masalah kesehatan yang sangat mengkhawatirkan saat sekaranh ini, dimana pelecehan seksual sering terjadi, penyakit menular seksual, Aborsi, hingga hamil di luar nikah. Hal inilah yang mendasari organisasi ini aktif untuk mengadakan advokasi ke remaja-remaja agar dapat terhindar dari masalah tersebut.

Tahun Baru Semangat Baru

Tahun baru adalah sebuah moment dalam mengawali aktivitas dengan suasana baru. Semua harapan-harapan yang belum tercapai tahun sebelumnya menjadi awal target di tahun ini dan semua kesuksesan di tahun sebelumnya akan menjadi cermin dalam mewarnai hari-hari yang penuh halangan dan rintangan. Tahun baru bukan berarti semua hal harus baru, namun suasana mestinya diperbaharui demi membuka semangat baru dalam beraktivitas.

Tahun baru kali ini menjadi anugerah yang terindah buatku, dimana segala aktivitas menjadi tercerahkan dengan semangat baru. Semoga di awal yang baik ini akan terus mewarnai perjalanan hidupku. Mengawali tahun baru bersama keluarga dan teman-teman dekat adalah anugerah terindah dan patut aku syukuri. Meski tanpa perayaan khusus namun maknanya cukup menjadi sumber inspirasi dalam memantapkan planning masa depan. Berkumpul sama keluarga adalah sebuah moment yang menjadi sumber semangat baru untuk terus bangkit ditengah keterpurukan suasana keluarga tercinta ini. Terpuruk bukan berarti keretakan hubungan kekeluargaan dan keakraban, tetapi terpuruk karena kondisi ekonomi yang kian sulit dan tidak menentu yang membuatku harus sabar dan yakin semuanya akana ada jalan keluarnya.

Menyelesaikan studi adalah sebuah planning yang mendesak di tahun baru ini dan harus aku garis bawahi sebagai tanda agar aku bisa lebih fokus dan serius walau dalam keadaan sesulit apapun. Namun semuanya hanyalah rencana, karena keputusannya ada pada Yang Maha Kuasa. Kuserahkan semuanya kepada-Nya sambil berdoa dan berusaha semaksimal mungkin.