RSS

SETETES AIR DI BALIK SEBUAH KEHIDUPAN

Pernah suatu ketika saya tinggal di sebuah desa yang sangat terpencil dan jauh dari sentuhan informasi tekhnologi seperti yang sedang berkembang pada saat ini. Desa yang sebagian besar penduduknya merupakan penduduk transmigrasi dari berbagai latar belakang daerah, suku, budaya, agama, ekonomi dan sosial. Sebut saja Desa Buana, salah satu desa di Kabupaten Baru yaitu kabupaten  Mamuju Utara Provinsi Sulawesi Barat
 
Sebagai pemerhati kesehatan, di desa ini lah saya melaksanakan kewajiban  pendampingan masyarakat dalam menerapkan pola Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan program penyediaan air minum di masyarakat. Suatu kebanggaan tersendiri ketika pertama kali saya datang di desa ini. Masyarakat yang begitu ramah dan sopan santun serta rela menerima saya sebagai warga baru bahkan telah menjadi keluarga sendiri. Suasana kampung yang sangat sunyi tidak membuat saya merasa terasingkan, tetapi justru terasa aman, damai dan tentram serta menjadi motivasi untuk ke depannya.

Suksesnya perkebunan sawit di desa ini menjadi penghasilan utama penduduk desa. Sebagian besar berprofesi sebagai buruh tani dengan penghasilan yang seadanya, cukup untuk menghidupi keluarganya tercinta. Selain itu juga sebagian menjadi petani, coklat, durian, Jeruk, jagung, dan berbagai hasil bumi lainnya. Pokonya jika datang ke desa ini, jangan heran ketika perut akan membuncit dengan suguhan buah-buahan hasil perkebunan mereka.
Kondisi lingkungan yang hijau kemilau oleh pepohonan sawit menjadikan desa ini sebagai desa terhijau. Tetapi ada satu hal yang membuat saya sangat sedih melihat kondisi desa ini yaitu masalah air bersih. Sungguh sangat memprihatinkan ketika lingkungan yang begitu hijau namun sumber air bersih yang sangat susah didapatkan. Itulah yang terjadi di desa  ini, air bersih menjadi kebutuhan yang sangat urgen di masyarakat. Kelangkaan air bersih membuat masyarakat resah apalagi ketika musim kemarau datang. Tidak jarang yang menjadi keluhan masyarakat ketika saya memberikan penyuluhan adalah masalah air bersih. Harapan mereka menggunakan air bersih sangatlah besar, namun harapan itu tak pernah terpenuhi hingga saat ini.

Mengapa Air Begitu Penting Bagi Kehidupan Kita?

Masalah air memang urgen dalam kehidupan mahluk hidup. Kita tahu bahwa air adalah senyawa kimia dengan rumus H2O yang merupakan kebutuhan dasar dari semua mahluk hidup di muka bumi ini terutama bagi kehidupan manusia. Berbagai aktivitas manusia yang bersentuhan langsung dengan air seperti mencuci, mandi, masak, minum, dan sebagainya. Dengan air  tumbuh-tumbuhan dapat tumbuh subur dan menghasilkan buah yang enak dan pemandangan hijau yang menyejukkan mata, dengan air pulalah sehingga hewan-hewan dapat hidup berkembang biak, bertelur, beranak, menghasilkan susu dan sebagainya. Akan tetapi sebuah kehidupan menanti setetes air bersih di desa ini harusnya menjadi perhatian dari berbagai pihak. Bagaimana masyarakat, tumbuhan, hewan, dan lingkungan lainnya mau sehat ketika kelangkaan air bersih yang sering terjadi di sepanjang tahun.

Menurut Permenkes RI No 416/Menkes/PER/XI/1990 tentang Syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum menyatakan bahwa air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari–hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum setelah dimasak. Sedangkan menurut Permenkes RI No492/IV/2010 tentang persyaratan kualitas air minum adalah air yang melalui proses pengolahan atau tanpa  proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum dan air minum yang aman bagi kesehatan apabila memenuhi poersyaratan fisika (tidak berbau, warna maksimal 15 TCU, Kekeruhan 5NTU, dan tidak berasa),  mikrobiologis (kandungan E.Coli dan Total Koliform 0), kimiawi (besi maksimal 0,3, mangan 0,4, aluminium 0,2 ) dan radioaktif (gross alphaactivity maksimal 0,1 Bq/l, gross betaactivity 1 Bq/l).

Akan tetapi di desa ini sendiri sangat susah mendapatkan air yang sesuai dengan yang tercantum dalam Permenkes tersebut. Masyarakat secara terpaksa harus menggunakan air seadanya dalam kondisi yang tercemar dari berbagai sumber seperti pembuangan limbah sawit serta didukung juga oleh tanahnya yang memang berstruktur tanah gambut sehingga airnya menjadi kuning kemerah-merahan. Menurut penuturan masyarakat setempat, air yang mereka gunakan kerap kali menimbulkan berbagai masalah dalam kesehatan. Tidak jarang terjadi penyakit seperti penyakit kulit, alergi, muntaber, dan penyakit diare yang juga sering menjadi wabah ketika kondisi lingkungan yang tidak stabil akibat musim yang tidak menentu.

Dari Mana Saja Sumber Air Bersih Itu?

Air yang terdapat di muka bumi ini terdiri dari bebagai macam sumber. Secara garis besar, air untuk keperluan rumah tangga dapat dibagi menjadi air tanah, air permukaan, dan air angkasa.

Air tanah adalah air yang tersimpan/terperangkap di dalam lapisan batuan yang mengalami pengisian/penambahan secara terus–menerus oleh alam. Kondisi suatu lapisan tanah membuat suatu pembagian zona air tanah menjadi dua zona besar yaitu Zona air berudara (zone of aeration) dan Zona air jenuh (zone of saturation).

Zona air berudara (zone of aeration) adalah suatu lapisan tanah yang mengandung air yang masih dapat kontak dengan udara. Pada zona ini terdapat 3 lapisan tanah yaitu : lapisan air tanah permukaan, lapisan intermediate yang berisi air gravitasi, dan lapisan kapiler yang berisi air kapiler.

Sedangkan Zona air jenuh (zone of saturation) adalah suatu lapisan tanah yang mengandung air tanah yang relatif tak berhubungan dengan udara luar dan lapisan tanahnya disebut aquifer bebas. 
Bu Harty, Seorang warga pengguna sumur gali

Transect Walk Ke Sumber Mata Air Sumur Gali
Suatu ketika saya mengadakan transect walks (berkunjung) ke sumber mata air yang digunakan oleh masyarakat. Hasil transect Walks tersebut dapat disimpulkan bahwa Sumber mata air yang digunakan masyarakat rata-rata adalah air tanah dengan zona air berudara (zone of aeration) dalam hal ini adalah sumur gali. Selain itu ada juga yang menggunakan air sungai dan mata air gunung meskipun jumlahnya sedikit dibandingkan dengan yang menggunakan air sumur gali. Akan tetapi, masyarakat menilai bahwa air yang mereka gunakan dari sumur gali tidaklah memenuhi syarat kesehatan dikarenakan kualitas fisiknya yang berwarna coklat kemerahan juga berbau. Meskipun masyarakat terpaksa menggunakannya karena satu-satunya sumber air yang mudah dijangkau oleh masyarakat di desa tersebut adalah sumur gali.  Sebut saja Bu Harty, seorang warga pengguna air sumur gali yang saya jumpai sedang mencuci pakaian di sumur gali yang berada tidak jauh dari kolom rumahnya. Sumur yang dibuat oleh pemerintah transmigrasi ini meupakan sumur tua yang digunakan sejak pertama kali datang hingga sekarang. Saya pun sempat berbincang-bincang terkait sumber air yang biasa digunakannya. Ia pun menyadari bahwa air yang ia gunakan itu adalah air yang tidak memenuhi persyaratan kesehatan namun apa boleh buat karena tidak ada pilihan lain kecuali sumur gali itu. Mata air yang bersih letaknya jauh dari pemukiman di atas Gunung Buana yang berjarak kurang lebih 3 kilometer dari pusat perkampungan. Bu Harty pun berharap suatu saat nanti sumber air bersih tersebut dapat ia nikmati bersama penduduk sekampungnya.
Warga sedang memperbaiki Sumber Mata Air Di Gunung
Selain sumur gali, potensi sumber air yang dimiliki oleh desa ini adalah mata air dari gunung. Namun karena jarak yang terlalu jauh sehingga hanya masyarakat tinggal di pegunungan saja yang menggunakanya. Sementara penduduk yang tinggal di dipemukiman hanya sekali-kali saja mengambil air di mata air tersebut. Itupun hanya ketika terjadi musim kemarau dan air sumur menjadi kering.


Salah satu mata air di Gunung Desa Buana

Menurut penuturan masyarakat, mata air yang terdapat di pegunungan desa tersebut merupakan mata air yang cukup jernih dan tidak  pernah kering sepanjang tahun. Karena rasa penasaran dengan penuturan masyarakat, saya pun mengajak masyarakat untuk melihat langsung mata air tesebut. Dan ternyata luar biasa mata air yang cukup besar dan jernih. Namun air tersebut tidak dimanfaatkan oleh masyarakat lantaran jarak yang terlampau jauh dari pemukiman.

 
Sumber air sungai yang digunakan masyarakat
Sumber air yang lain selain air tanah adalah air permuakaan. Air permukaan seperti  sungai, danau maupun waduk merupakan air yang kurang baik untuk langsung dikonsumsi oleh manusia. Oleh karena itu, perlu adanya pengolahan terlebih dahulu sebelum dimanfaatkan. Ketika musim kemarau datang dan kekeringan sumur gali melanda, maka warga desa mencari alternatif mengambil air dari satu-satunya sungai yang jarang kering yaitu sungai pembuangan dari air terjun dari gunung yang ada di desa tersebut yang melewati perkebunan. Namun sayangnya juga kondisi air tersebut menjadi tidak memenehui syarat kesehatan dikarenakan telah tercemar oleh limbah perkebunan. Sungai yang melewati perkebunan itu tidak jarang menjadi sumber mata air para tukang kebun untuk segala kebutuhan kebun seperti tempat mengambil air untuk menyemprot tanaman, memupuk, menyiram, bahkan sebagai tempat memandikan  ternak, serta mencuci segala bentuk alat-alat perekebunan mereka. 

Salah satu mata air terjun yang jauh dari jangkauan masyarakat
Kelompok sumber air yang terakhir adalah air angkasa. Air angkasa  dalam hal ini adalah air hujan.  Pada umumnya air hujan kualitasnya cukup baik, namun air ini akan bisa mengakibatkan kerusakan – kerusakan terhadap logam, yaitu timbulnya karat. Disamping itu khusus untuk daerah perkotaan, air hujan akan dikotori oleh debu – debu, dan apabila terjadi ledakan gunung berapi, air hujan pun akan dikotori oleh debu. Beberapa sifat air hujan yaitu, bersifat lunak (soft water) karena tidak/kurang mengandung larutan garam dan zat mineral sehingga terasa kurang segar, dapat mengandung beberapa zat yang ada di udara seperti NH3 dan CO2 agresif sehingga bersifat korosif.  Dari segi bakteriologis, air hujan relatif lebih bersih tergantung pada tempat penampungannya, besar curah hujan di suatu daerah merupakan patokan yang utama dalam perencanaan penyediaan air bersih bagi kesehatan.

Suasana ketika banjir di musim hujan
  Pada musim hujan tiba, kondisi air di desa ini semakin memprihatinkan. Air menjadi keruh dan berbau. Dalam kondisi seperti ini, masyarakat kesusahan mendapatkan air bersih dari sumur yang merkea miliki. Apalagi ketika banjir melanda perkampungan. Semua jalanan terendam air hingga ke perumahan warga. Sumur gali sebagian besar terendam banjir. Satu-satunya jalan yang ditempuh masyarakat adalah dengan menampung air hujan untuk kebutuhan sehari-hari mencuci, mandi, minum, masak bahkan untuk diminum. 

Pernah suatu hari saya turun lapangan terhalang oleh banjir sehingga harus berjalan kaki dan mendorong kenderaan roda dua yang saya tumpangi beberapa kilometer untuk sampai di pemukiman penduduk. Sampai dipemukiman hati saya sangat tersentuh ketika melihat kondisi masyarakat yang selalu mengeluh terhadap air bersih. 
Kapankah Air Itu Dikatakan Bersih ? 
Air dimuka bumi ini yang terdiri dari berbagai sumber tidak selamanya merupakan air bersih. Secara kasat mata terkadang kita melihat kondisi air secara fisik memang jernih dan tidak berbau, tidak menandakan ada pencemaran apapun, tetapi belum tentu air itu adalah air bersih maupun air minum. Menurut Permenkes RI Nomor 416 Tahun 1990 air yang memenuhi syarat kesehatan harus memenuhi kriteria Syarat Kualitas dan Syarat Kuantitas.

Syarat  Kualitas terdiri dari syarat fisik (Tidak Keruh, Tidak Berwarna, tidak berasa, dan tidak berbau), syarat kimiawi (tidak mengandung zat-zat yang berbahaya bagi kesehatan seperti zat-zat racun dan tidak mengandung mineral serta zat-zat organik yang lebih tinggi dari jumlah yang ditentukan), syarat mikrobiologis  (tidak mengandung kuman-kuman parasit dan patogenik), dan syarat radioaktif (tidak mengandung bahan radioaktif yang berbahaya bagi manusia dan organisme lainnya). 

Air yang tidak memenuhi syarat digunakan oleh masyarakat
Inspeksi Sanitasi mata air sungai yang tercemar
Standar kualitas air bersih yang diperbolehkan secara kimia dan bakteri oleh Permenkes RI No 416/Menkes/PER/XI/1990 yaitu diatas 300C suhu udara, pH kadar maksimumnya 6,5 – 9, sisa chlor kadar maksimumnya 0,2 – 0,3 mg/l dan bakteri koliform 10 per 100 ml air

Syarat Kuantitas merupakan ketersediaan air yang sesuai dengan kebutuhan. Kebutuhan air untuk daerah perkotaan pada akhir Repelita VI diperkirakan 150-300 liter/orang/hari, sedangkan untuk daerah pedesaan sekitar 100-150 liter/orang/hari. Negara tetangga kita seperti Singapura kebutuhan air perkapita per hari lebih dari 700 liter dan Thailand sekitar 600 liter/orang/hari. 
  
Saat saya melakukan inspeksi (pemeriksaan) sanitasi di desa ini, saya melihat rata-rata air yang digunakan masyarakat adalah air yang tidak memenuhi syarat kualitas, baik dari fisik, kimiawi, bakteri, maupun zat radioatif. Suatu kekhawatiran tersendiri bagi saya ketika melihat langsung masyarakat yang menggunakan air yang tidak memenuhi persyaratan kesehatan. Selain berwarna akibat pengaruh tanah gambut juga berbau akibat tercemar oleh limbah sampah tertutama dari perkebunan sawit. 

Bagaimana Jika Terjadi Kelangkaan Air Bersih?

Air menutupi hampir 71% permukaan Bumi. Terdapat 1,4 triliun kilometer kubik (330 juta mil) tersedia di Bumi. Air sebagian besar terdapat di laut dan pada lapisan-lapisan es, akan tetapi juga dapat hadir sebagai awan, hujan, sungai, muka air tawar, danau, uap air, dan lautan es. Air dalam obyek-obyek tersebut bergerak mengikuti suatu siklus air, yaitu: melalui penguapan, hujan, dan aliran air di atas permukaan tanah  meliputi mata air, sungai, muara menuju laut

Siklus air di bumi
Gerakan air di permukaan bumi ini merupakan perjalanan air dari permukaan laut ke atmosfer kemudian ke permukaan tanah dan kembali lagi ke laut secara berangsur-angsur. Matahari mengeluarkan energi panas yang akan menyebabkan terjadinya evaporasi di laut atau tubuh-tubuh perairan. Evaporasi akan menyebabkan terjadinya uap air tersebut terbawa angin melintasi daratan yang bergunung atau datar, apabila keadaan atmosfer memungkinkan sebagian dari uap air akan turun menjadi hujan. Dalam daur hidrologi komponen masukan utama berupa air hujan, air hujan yang jatuh di permukaan akan tertahan sementara di sungai, danau, dalam tanah sehingga dapat dimanfaatkan oleh manusia. Ketika siklus ini berada pada musim kemarau maka kelanggkaan air pun terjadi di muka bumi.

Kelangkaan air di desa ini juga sering menjasi masalah bagi masyarakat. Ketika meusim kemarau datang, masyarakat hampir tidak memiliki sumber air dipemukiman. Mereka harus mengambil di mata air pegunungan  sekitar 3 kilometer dari pusat pemukiman. Suatu pemandangan yang memprihatinkan ketika serombongan masyarakat berbondong-bondong membawa gerijen, ember, dan wadah air lainnya untuk mendaki gunung demi mendapatkan sumber air bersih. Dulu saya hanya menyaksikan pemandangan seperti ini di berbagai stasiun televisi, tetapi pada akhirnya saya saksikan juga dengan mata kepala sendiri dan bahkan saya juga terlibat di dalam kondisi yang sama. Inilah setetes air dibalik sebuah kehidupan masyarakat di desa yang menyimpan suka dan duka bagi saya ini. Desa yang menginspirasi banyak kalangan, kehidupan yang serba terbatas dari kebutuhan dasar hidup akan tetapi kehidupan itu harus tetap berjalan dengan semangat perjuangan yang tinggi.

Namun dibalik semangat itu, ada satu hal yang sungguh mengkhawatirkan, yaitu kondisi kelangkaan air yagn sering terjadi. Mungkin kita semua tahu bahwa kekurangan air dalam tubuh akan menyebaban dehidrasi. Di dalam tubuh manusia terdiri dari air sekitar 65%, dan sekitar 47 liter air terdapat pada orang dewasa. Setiap harinya 2,5 liter dari jumlah air tersebut harus diganti dengan air yang baru. Diperkirakan dari sejumlah air yang harus diganti, 1,5 liter berasal dari air minum dan sekitar 1 liter berasal dari bahan makanan yang dikonsumsi. Menurut WHO jumlah air minum yang harus dipenuhi agar dapat mencapai syarat kesehatan adalah 86,4 liter per kapita per hari, sedang kondisi di Indonesia ditentukan sebesar 60 liter per hari. Dengan terpenuhinya kebutuhan ini, maka seluruh proses metabolisme dalam tubuh manusia bisa berlangsung dengan lancar. Sebaliknya, jika kekurangan air, maka proses metabolisme terganggu. Sekitar 60-70 % dari komposisi tubuh manusia sebagian besar terdiri dari air. Dan jika ini tidak terpenuhi maka akibatnya bisa terjadi dehidrasi, yang pada tahapan berikutnya dapat menimbulkan kematian.

Di desa ini tentunya kebutuhan air akan tubuh tidak akan terpenuhi. Masyarakat yang harusnya mendapatkan suplay air 2,5 liter per hari per orang tidak dapat terpenuhi dikarenakan penghematan persediaan air lantaran jauhnya mengambil air  ketika musim kemarau datang. Tadinya yang mengkonsumsi air  2,5 liter air atau lebih ada musim penghujan akhirnya turun menjadi 1 liter atau bahkan kurang. Minum air pun hanya dilakukan jika benar-benar merasa sangat kehausan dan bahkan ada yang meminum air hanya ketika setelah makan. Semua ini dilakukan penduduk desa ini demi menghemat air yang mereka setengah mati mereka ambil dari jauh. Ujung-ujung dampaknya juga kepada masyarakat yang sering mengalami dehidrasi karena terjangkit berbagai penyakit seperti diare, typhoid, hepatitis, desentri dan lain-lain.

Bagaimana Dampak Ketika Air Bersih Itu tercemar?

Air merupakan salah satu kebutuhan esensial manusia yang kedua setelah udara untuk keperluan hidup. Untuk menciptakan suatu lingkungan hidup manusia yang bersih dan sehat tanpa persediaan air yang cukup, mustahil akan tercapai. Persediaan air yang banyak dan dengan kualitas yang lebih baik, lebih cepat meningkatkan kemajuan kesehatan masyarakat. Sebaliknya, jika ketersediaan air dan disertai kualitas yang buruk maka dapat mengancam atau membahayakan kesehatan
Adapun penyakit yang dapat ditularkan melalui air, dapat dikelompokkan menjadi 4 kategori sebagai berikut :
a.    Water Borne Disease
Water Borne Disease adalah penyakit yang ditularkan atau disebabkan atau disebarkan akibat kontaminasi air oleh kotoran manusia atau air seni. Pada jenis ini, infeksi atau penularannya. Bilamana organisme patogen mencari jalan masuk ke air kemudian dikonsumsi oleh orang yang tidak memiliki kekebalan terhadap penyakit tersebut. Adapun penyakit yang termasuk dalam golongan ini adalah cholera, typhoid, basillary dysentry, diare, hepatitis, infectiosa dan gastroenteritis.
b.   Water Washed Disease
Penyakit ini dapat terjadi apabila air yang masuk ke dalam tubuh tercemar oleh kotoran dan dapat pula ditularkan dengan kontak yang lebih langsung yaitu antara faeces dan mulut. Dalam kondisi higienis yang buruk karena tidak tersedianya air bersih yang cukup untuk pencucian, penularan penyakit atau infeksi dapat dikurangi dengan penyediaan air tambahan, dalam hal ini kualitasnya tidak perlu setaraf dengan air minum. Yang termasuk kelompok penyakit ini adalah sebagian penyakit waterborne seperti gastroenteritis, amoebic, dysentry dan bacillary dysentry.
c.    Water Based Disease
Penyakit ini tergantung pada organisme pathogen yang menghabiskan sebagian siklus hidupnya di dalam air atau dalam host sementara yang hidup di dalam air. Dengan demikian infeksi kepada manusia tidak mungkin terjadi dengan masuknya organisme ke badan atau secara kontak dengan organisme yang dikeluarkan oleh penderita. Pada umumnya penyakit kelas ini disebabkan oleh cacing yang hidup dalam tubuh penderita dan menghasilkan telur yang kemudian dikeluarkan bersama kotoran manusia atau urine. Infeksi ini lebih sering terjadi melalui penetrasi kulit daripada infeksi melalui air minum. Yang termasuk kelompok penyakit ini adalah Schistosomiasis.
d.   Vektor serangga (Insecta) Water Related Disease
Terdapat cukup banyak penyakit yang disebabrkan oleh insekta (serangga) yang berbiak atau memperoleh makanan di sekitar air sehingga insiden – insidennya dapat dihubungkan dengan dekatnya sumber air yang cocok. Infeksi penyakit semacam ini tidak ada hubungannya dengan kebiasaan orang mengkonsumsi atau kontak dengan air. Nyamuk yang mentransmisikan malaria dan berbagai macam penyakit lainnya lebih suka pada genangan air yang dangkal. Adapun yang termasuk dalam penyakit ini adalah Malaria yang ditularkan oleh vektor Nyamuk Anopheles, Demam Berdarah Dengue yang ditularkan oleh vektor Nyamuk Aedes Aegypti, dan lainnya.
Kita berharap bahwa seharusnya air diperlakukan sebagai bahan yang sangat bernilai, dimanfaatkan secara bijak, dan dijaga terhadap pencemaran. Namun kenyataannya air selalu dihamburkan, dicemari, dan disia-siakan. Hampir sebagian penduduk dunia, hampir seluruhnya di negara-negara berkembang, menderita berbagai penyakit yang diakibatkan oleh pencemaran air. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, 2 miliar orang kini menyandang risiko menderita penyakit diare yang disebabkan oleh air dan makanan. Penyakit ini merupakan penyebab utama kematian lebih dari 5 juta anak-anak setiap tahun. Sumber-sumber air semakin dicemari oleh limbah industri yang tidak diolah atau tercemar karena penggunaanya yang melebihi kapasitasnya untuk dapat diperbaharui. Kalau kita tidak mengadakan perubahan radikal dalam cara kita memanfaatkan air, mungkin saja suatu ketika air tidak lagi dapat digunakan tanpa pengolahan khusus yang biayanya melewati jangkauan sumber daya ekonomi bagi kebanyakan Negara.
Hal inilah juga yang terjadi di desa ini, penyakit yang disebabkab oleh pencemaran air melalui ke-4 kelompok kategori seperti yang telah diuraikan diatas. Suatu ketika saya mengunjungi petugas kesehatan di Puskesmas Pembantu (Pustu) setempat, saya melihat data penyakit terbanyak adalah, diare, infeksi kulit atau gatal-gatal, alergi, disentri, malaria, demam tifoid dan masih banyak penyakit berbasis lingkungan air lainnya. Menurut penuturan Bidan Minah, seorang petugas kesehatan yang bertugas sehari-ari di Pustu tersebut, menyatakan bahwa memang penyakit yang terjadi di masyarakat di desa ini rata-rata adalah penyakit berbasis lingkungan seperti, diare dan penyakit kulit yang disebabkan karena kondisi air yang tercemar. Pernah suatu saat ia memeriksakan sampel air di desa tersebut di sebuah laboratorium ternyata banyak mengandung Bakteri dan bahan kimia.
Pencemaran air yang terjadi di desa ini berawal dari tekstur tanah gambut, dimana tanah gambut ini merupakan jenis tanah yang terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan yang telah mati dan membusuk. Ditambah lagi tumbuhan kelapa sawit yang tumbuh dengan lebatnya sehingga limbahnya yang terbuang menumpuk dan terurai di dalam tanah. Hasil penumpukan inilah yang mempengaruhi air tanah menjadi merah kecoklatan dan berbau serta terasa asam.
Bagaimana Pengelolaan Air Secara Sederhana?

Kualitas air merupakan sifat air dan kandungan makhluk hidup, zat, atau energi atau komponen lain dalam air yang telah diukur berdasarkan parameter fisik, kimia, mikrobiologi, maupun radioaktifitas. Penyimpangan terhadap parameter dapat merubah kualitas air sedemikian rupa sehingga air tidak dapat dimanfaatkan lagi sesuai peruntukkannya.

Pengolahan yang dilakukan, selain menyangkut hal – hal seperti penghilangan kuman patogen yang secara langsung mengganggu kesehatan, juga menyangkut aspek mutu. Apabila air yang sudah diolah tidak dapat diterima oleh masyarakat karena alasan tertentu, para konsumen akan terus mengambil air dari sumber tradisional. Dengan demikian tidak akan diperoleh manfaat pengurangan penyakit dari air yang terolah. Misalnya, apabila air yang terolah tidak enak rasanya, atau karena hal lain, air yang tercemar tetapi karena rasanya lebih dapat diterima akan lebih disukai, para konsumen akan terus memakai air yang terinfeksi

Pada dasarnya pengolahan air berarti penyediaan air yang baik dengan cara membuang zat –zat yang tidak dikehendaki dengan berbagai macam proses. Maksud utama dari pengolahan air adalah memberikan perlindungan pada sumber air dengan perbaikan kualitas asal air sampai pada kualitas air yang diinginkan, dengan tujuan agar aman untuk dilakukan oleh masyarakat pemakai air. Ada beberapa cara pengolahan air minum antara lain sebagai berikut :
a.   pengolahan secara alamiah
pengolahan ini dilakukan dalam bentuk penyimpanan (storage) dari air yang diperoleh dari berbagai macam sumber, seperti air danau, air sungai, air sumur dan sebagainya. Didalam penyimpanan ini, air dibiarkan dalam beberapa jam di tempatnya kemudian akan terjadi koagulasi dari zat – zat yang terdapat di dalam air dan akhirnya terbentuk endapan. Air akan menjadi jernih karena partikel – partikel yang ada dalam air ikut mengendap.
b.   pengolahan air dengan menyaring
penyaringan air secara sederhana dapat dilakukan dengan kerikil, ijuk dan pasir. Penyaringan pasir dengan teknologi dilakukan oleh PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) dan hasilnya dapat dikonsumsi umum.
c.    Pengolahan air dengan menambahkan zat kimia
Zat kimia yang digunakan dapat berupa 2 (dua) macam yakni zat kimia yang berfungsi untuk koagulasi dan akhirnya mempercepat pengendapan misalnya tawas. Zat kimia yang kedua yaitu berfungsi untuk membunuh jenis penyakit di dalam air misalnya chlor
d.   Pengolahan air dengan mengalirkan udara
Tujuan utamanya adalah menghilangkan rasa serta bau yang tidak enak, menghilangkan gas – gas yang tidak diperlukan, misalnya CO2 dan juga menaikkan derajat keasaman air
e.   Pengolahan air dengan memanaskan sampai mendidih
Tujuannya untuk membunuh kuman–kuman yang terdapat pada air. Pengolahan semacam ini lebih tepat hanya untuk konsumsi kecil misalnya untuk kebutuhan rumah tangga

Pembuatan Penyaringan air secara sederhana
Melihat antusias masyarakat untuk mendapatkan air bersih, maka dengan berbekal pengalaman praktek penyediaan air bersih (PAB) yang saya dapatkan saat masih di bangku perkuliahan, saya mengajak masyarakat untuk mencoba menggunakan penyaringan air secara sederhana dengan menggunakan pasir, ijuk, kerikil, dan arang sebagai percontohan. Hal ini direspon baik oleh masyarakat dan merupakan salah-satunya solusi yang mereka bisa lakukan untuk mendapatkan air bersih. 
Penyaringan air secara sederhana
Potensi besar mata air bersih dari mata air gunung adalah mimpi-mimpi masyarakat adanya sentuhan dari pemerintah daerah setempat maupun dari berbagai instansi lainnya untuk mengelolah air tersebut sampai di pemukiman. Menurut penuturan masyarakat dulu pernah ada proyek pengadaan air bersih dari mata air tersebut dengan sistem perpiapaan, akan tetapi hanya bisa berjalan kurang lebih tiga bulan. Hal ini dikarenakan tidak adanya perawata khusus sehingga perpipaan tersumbat yang menyebabkan kerusakan pipa tersebut hingga penampung dan kran airnya.

Sumber Referensi :
Daud, Anwar, Aspek Kesehatan Penyediaan Air Bersih, Jurusan Kesehatan Lingkungan FKM UNHAS, Makassar, 2003
Slamet, Juli Soemirat, Kesehatan Lingkungan, Bandung : UGM Press, 1994
Notoatmadja, Soekidjo, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Jakarta : Rineka Cipta, cetakan I, 1997
http://www.hukor.depkes.go.id/up_prod_permenkes/PMK%20No.%20492%20ttg%20Persyaratan%20Kualitas%20Air%20Minum.pdf
http://web.ipb.ac.id/~tml_atsp/test/PerMenKes%20416_90.pdf
http://id.wikipedia.org/wiki/Air
http://en.wikipedia.org/wiki/Water
http://jakarta.usembassy.gov/ptp/airbrs1.html
http://pesatnews.com
www.sinarharapan.com


0 komentar: